Oleh : Yudha Saputra – Pimred PORTAL OPOSISI.
Di kota yang menyebut dirinya kota pendidikan, anggaran kesehatan digelontorkan seperti menuang air ke tempayan besar. Angkanya menggunung, judul programnya mentereng, tetapi ketika rakyat menengok ke dalam tempayan itu, yang tampak hanyalah air tipis yang nyaris tak bisa diminum.
Setiap tahun, angka anggaran dipoles dalam berita seindah puisi. Kalimat bertebaran seperti kelopak bunga: peningkatan layanan, optimalisasi kinerja, komitmen pemerintah, transformasi kesehatan. Namun publik tahu: bunga itu plastik—cantik di foto, tetapi tak punya aroma kenyataan.
Pelayanan yang seharusnya jadi inti justru seperti bayangan di dinding: terlihat besar dalam pemberitaan, tetapi saat disentuh, tak ada wujudnya. Rakyat kecil masih berdesakan dalam antrean panjang, tenaga medis semakin hilang dari tempatnya, dan fasilitas kesehatan ibarat rumah megah tanpa isi: berdiri gagah, namun tak bisa menjawab keluhan rakyat.
Anggaran yang besar itu seolah hanya menjadi lampu sorot untuk panggung birokrasi, bukan lilin kecil yang menerangi kebutuhan rakyat. Yang dijual ke publik hanyalah lipservis, berita manis tanpa gizi, laporan-laporan yang gemuk namun hampa, seolah masyarakat bisa sembuh hanya dengan membaca judul.
Sementara itu, rakyat yang sakit harus tetap berjalan jauh, menunggu lama, dan menerima layanan seadanya. Di kota pendidikan ini, rakyat justru seperti murid tanpa guru—dibiarkan mencari solusi sendiri, meski negara telah memungut uangnya.
Ada pepatah lama:
“Jika sumur keruh, jangan salahkan timba.”
Dan hari ini, sumur tata kelola anggaran itulah yang keruh. Air anggaran mengalir, tapi tidak menuju ladang rakyat—hanya membasahi rumput-rumput di halaman birokrasi.
Selama anggaran hanya dijadikan bahan publikasi, bukan fondasi layanan, maka kesehatan rakyat akan tetap berada di ruang tunggu yang sama: sunyi, padat, dan semakin jauh dari kata layak.
